“Jakarta makin lama makin panas” “duh hari ini panas sekali ya” , begitulah yang dikeluhkan oleh teman-teman saya (dan juga saya) pada saat siang hari.  ya, Jakarta semakin terasa panas dari hari ke harinya, dan saya rasa mungkin itu juga terjadi di kota-kota lainnya di Indonesia. memang cuaca akhir-akhir ini jadi tak menentu,  kadang panasnya sungguh terasa seperti membakar kulit, namun ketika hujan datang, maka terasa seperti badai dahsyat karena disertai angin yang kencang. kalau dulu, musim kemarau dan musim hujan ada waktunya yang terjadwal dari bulan berapa sampai bulan berapa, sekarang musim kemarau dan musim hujan bercampur jadi satu. cuaca berubah-berubah sesuka hati, hari ini boleh terasa panas menyengat namun keesokannya bisa terjadi hujan besar. dan itu hanya satu dari beberapa dampak global warming alias pemanasan global.

secara sederhana, yang dimaksud pemanasan global  adalah suatu proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.  peningkatan suhu ini bisa terjadi karena emisi gas-gas rumah kaca yan menyebabkan lapisan ozon yang menyaring sinar matahari menjadi tipis. adapun jenis-jenis gas rumah kaca ialah:
1. CO2 (karbondioksida) yang berasal dari respirasi makhluk hidup, pembakaran bahan bakar fosil(minyak bumi, batubara, dan gas alami)
2. CH4 (methana) berasal dari persawahan, pelapukan kayu, timbunan sampah, proses industri, dan eksplorasi bahan bakar fosil
3. N2O (nitrous oksida) yang berasal dari kegiatan pertanian/pemupukan, transportasi dan proses industri
4. HFCs (hidrofluorokarbon) berasal dari sistem pendingin, aerosol, foam, pelarut, dan pemadam kebakaran
5. PFCs (perfluorokarbon) berasal dari proses industri
6. SF6 (sulfur heksafluorida) berasal dari proses industri Jenis gas rumah kaca diatas dapat diturunkan kosentrasinya jika dengan mengkonsumsi barang-barang yang ramah lingkungan dan yang tidak menghasilakan gas-gas rumah kaca diatas sebagai limbah buangannya.

oleh karena pemanasan global yang semakin “menjadi” dan mengancam bumi ,  WWF (World Wildlife Fund) sebagai organisasi konservasi terbesar di dunia melakukan kampanye  yang berupa inisiatif global untuk mengajak individu, komunitas, praktisi bisnis, dan pemerintahan di seluruh dunia untuk turut serta mematikan lampu dan peralatan elektronik yang sedang tidak dipakai selama 1 jam, pada setiap hari Sabtu di minggu ke-3 bulan Maret setiap tahunnya yang dinamakan Earth Hour .

Earth Hour berawal dari kampanye kolaborasi antara WWF-Australia, Fairfax Media, dan Leo Burnett untuk kota Sydney, Australia, dengan tujuan mengurangi gas rumah kaca di kota tersebut sebanyak 5% pada tahun 2007 dan Earth Hour mulai dikampanyekan oleh WWF ke seluruh dunia sejak  tahun 2008 lalu, dan Indonesia mulai berpartisipasi pada tahun berikutnya.
Earth Hour pada tahun ini akan dilaksanakan pada tanggal 31 maret pada pukul 20.30-21.30 waktu setempat dan menurut berita di VOA (Rabu, tanggal 22 februari 2012) yang saya baca, 5 Kota Besar Indonesia Dukung Aksi Earth Hour 2012 (DKI Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, dan Bali). wow! bayangkan berapa banyak listrik yang dapat dihemat dari aksi tersebut? mengingat sebagian besar penduduk Indonesia menetap di pulau Jawa dan Bali.
seperti yang saya kutip berikut ini (masih dari berita VOAtersebut):

WWF Indonesia berkomitmen untuk mengusung kampanye ini hingga tahun 2014, untuk membangun kesadaran masyarakat – terutama di kota-kota besar Jawa-Bali, yang selama ini menjadi pengguna listrik terbesar yaitu 78 persen, dan cenderung boros. Dari angka ini, sekitar 23 persen pengguna berada di wilayah DKI Jakarta dan Tangerang

sebenarnya pada saat pertama kali saya tahu tentang Earth Hour ini, saya sempat malas untuk ikut berpartisipasi. namun saya pikir-pikir lagi, kalau saya tidak ikut, pasti teman-teman saya juga tidak ikut. kalau banyak yang tidak ikut, maka keberlangsungan hidup bumi kita ini akan semakin terancam.
jadi saya memutuskan untuk ikut berpartisipasi dan mulai membiasakan diri saya dengan mematikan alat-alat elektronik yang tidak dipakai, dengan begitu saya dapat memberikan contoh bagi orang-orang disekitar saya sehinga merekapun akan melakukan hal yang sama (trickle down effect (efek turunan)).

Untuk “menyelamatkan” bumi sebenarnya tidak hanya mematikan aliran listrik pada alat-alat elektronik yang tak terpakai, banyak cara yang bisa kita lakukan. mulai dari hal-hal kecil seperti membuang sampah tidak secara sembarangan, menghemat pemakaian kertas/tissue dan melakukan daur ulang agar pohon-pohon tidak semakin banyak ditebang, mengurangi pemakaian kantong plastik dan botol plastik karena benda tersebut sulit terurai oleh tanah (membutuhkan waktu yang sangat lama).
dan juga, lakukanlah penghijauan dengan menanam pohon atau tanaman dilingkungan sekitar agar udara dapat lebih bersih dan sejuk.
bahkan perusahaan penerbangan milik negara, PT GARUDA INDONESIA juga ikut menerapkan program yang sejalan Earth Hour. seperti yang dikatakan oleh Humas PT GARUDA INDONESIA, ibu Diah Wiratmi

“Earth Hour memang awalnya diinisiasi oleh WWF, tetapi di Garuda sudah menjadi kegiatan rutin yang kita lakukan setiap hari. Kita melakukan carbon off set, penggunaan biofuel tapi itu masih studi kelayakan tapi nanti di masa depan kita mengarah ke situ. Lalu menanam pohon, dan juga menggunakan konsep eco-living untuk pembangunan kantor Garuda yang baru. Kami meminimalkan penggunaan cahaya,” kata Diah Wiratmi.

Diah menambahkan, sisa buangan kertas hasil cetakan tiket juga didaur ulang menjadi agenda. Sejak 2009, bagian pengamanan lingkungan perusahaan juga menghimpun data dari semua unit, berapa watt listrik yang berhasil dikurangi.

perusahaan-perusahaan internasionalpun juga sudah mulai mengkampanyekan program yang ramah lingkungan,  seperti Bodyshop yang sejak lama mengkampanyekan pelarangan sampah plastik dan stryfoam. dan beberapa perusahaan-perusaahn di Indonesia juga menyatakan siap mendukung program Earth Hour tahun ini.

Bumi bukan milik anda, bukan juga milik saya, tapi milik kita bersama.
jika bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga bumi ini.
jadi, ayo dukung dan ikut berpartisipasi pada Earth Hour tahun ini.
31/03/2012  pukul 20.30-21.30 
Setelah 1 Jam, Jadikan Gaya Hidup!
(yuk dishare ke teman-teman yang lainnya, agar bumi kita ini semakin lestari :D)

Beberapa foto dari kota-kota di dunia dan Jakarta, ketika ikut berpartisipasi dalam Earth Hour:
(bahkan dengan lampu-lampu yang dipadamkan, pemandangan di kota-kota ini masih  terlihat cantik :))